-->

Sunday, August 10, 2025

Plt. Kaban Badan Kesbangpol Inhil Kamaluddin Sebut Menjadi Paskibraka Tak Hanya Tugas Seremonial Setiap 17 Agustu

Plt. Kaban Badan Kesbangpol Inhil Kamaluddin Sebut Menjadi Paskibraka Tak Hanya Tugas Seremonial Setiap 17 Agustu

 



 

 

 

 

RIAUAKTA.ID, TEMBILAHAN - Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) bukan sekadar tugas seremonial setiap tanggal 17 Agustus, melainkan sebuah tanggung jawab besar sebagai simbol integritas, keteladanan dan agen perubahan bangsa.

Demikian disampaikan Kesbangpol Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Kamaluddin saat memberikan pembekalan kepada para calon anggota Paskibraka Inhil di salah satu hotel di Tembilahan, Rabu (6/8/2025).

"Kalian adalah generasi terpilih. Tidak semua pelajar bisa berdiri di titik ini. Di balik baju seragam dan barisan rapih, ada beban sejarah dan masa depan yang harus kalian pikul. Kalian harus kuat secara fisik, tapi jauh lebih penting kuat karakter dan nilai," tegasnya kepada calon Paskibraka.

Kamaluddin juga menyoroti bahaya yang mengintai generasi muda hari ini, mulai dari penyalahgunaan narkoba, maraknya judi online (judol), penyimpangan media sosial, hingga krisis etika dan budaya instan.

"Banyak anak muda tumbang bukan karena peluru, tapi karena gagal menahan godaan di genggamannya sendiri. HP-mu bisa jadi jendela ilmu, tapi juga bisa jadi jurang kehancuran,"ujar Kamaluddin.

Ia juga mengingatkan agar para siswa mewaspadai radikalisme, polarisasi politik, dan hoaks yang membanjiri ruang digital.

"Kalian harus cerdas secara digital, bukan sekadar aktif. Di era seperti ini, nasionalisme bukan hanya di lapangan upacara tapi juga di ruang komentar dan pencarian Google,"ingatnya.

Secara khusus, Kamaluddin mengangkat isu lingkungan dan krisis iklim sebagai persoalan yang kerap diabaikan, namun dampaknya nyata dan mengancam masa depan generasi muda, terutama di Kabupaten Indragiri Hilir.

"Kita sering bicara tentang masa depan, tapi lupa satu kenyataan yang terjadi di depan mata, kerusakan lingkungan, di Inhil, kebun kelapa bukan sekadar ladang melainkan jantung ekonomi rakyat. Tapi hari ini, jantung itu sedang sekarat,"keluhnya.

Dia juga menjelaskan bahwa alih fungsi lahan, kebakaran gambut, dan rusaknya ekosistem menyebabkan air asin meresap ke darat, tanah mengering, kelapa mati, dan hama menyerang. Suhu bumi kian panas, musim tak menentu. Semua ini berdampak langsung pada ekonomi rakyat dan stabilitas sosial.

"Ini bukan lagi isu global. Ini adalah soal dapur keluarga kita, sekolah kita, masa depan kita. Mencintai tanah air bukan hanya soal bendera, tapi juga soal tanah dan air itu sendiri," tandasnya.

Berita

Pilihan

© Copyright 2019 Riaufakta.id | All Right Reserved